8 KEBOHONGAN IBU

Posted: January 22, 2011 in Artikel

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di  sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika  makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke  mangkukku, ibu berkata: “Makanlah nak, aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU
YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan,  ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sendokku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan”
———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata

:”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata
:”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika  hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu  aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi,  menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata  :”Minumlah nak, aku tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan  ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan  hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa  penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun  masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu  sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang  keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh   cinta” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu  yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke  pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.  Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk  membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang  tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya punya duit”  ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari SMA, aku pun melanjutkan studi ke S1 dan kemudian memperoleh gelar  di sebuah universitas ternama di Jakarta berkat sebuah beasiswa di sebuah  perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan  tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Rumah saya. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku tidak terbiasa” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat  di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera  pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di  ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku  dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi  tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku  sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi  seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “jangan menangis anakku, Aku tidak  kesakitan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya
untuk yang terakhir kalinya

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s